Aceh Timur, mitratnipolri.co.id
Tiga bulan setelah banjir besar menerjang Desa Pante Labu, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, ratusan warga Dusun Bahagia masih bertahan hidup di tenda darurat. Hingga H-18 menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, sebanyak 204 unit hunian sementara (huntara) yang diperuntukkan bagi korban belum juga dapat ditempati.
Banjir yang terjadi pada 26 November 2025 itu merendam permukiman warga dan merusak puluhan rumah hingga tak lagi layak huni. Sejak saat itu, sebagian warga terpaksa mengungsi, menunggu kepastian kapan hunian sementara bisa mereka tempati.
Ramadan tahun ini pun dijalani dalam keterbatasan. Terik siang menyengat di balik terpal, sementara malam terasa pengap dan sempit bagi keluarga-keluarga yang berbagi ruang dalam satu tenda.
Ketua Aliansi Pers Rehab Rekon Pascabanjir Aceh, Masri, mengatakan lambannya penyelesaian pembangunan huntara membuat warga terancam kembali merayakan Idulfitri di pengungsian.
“Jika pembangunan huntara tidak segera diselesaikan, warga terpaksa merayakan Lebaran di bawah tenda. Ini tentu memprihatinkan,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, harapan warga sederhana,bisa menempati hunian sementara sebelum hari raya tiba. Namun hingga memasuki hari ke-12 Ramadan, belum satu pun unit huntara yang dinyatakan siap huni.
Di antara deretan tenda, Saidah, salah satu warga terdampak, mengaku sudah lebih dari tiga bulan tinggal bersama keluarganya di pengungsian. Dalam satu tenda, ia menampung dua keluarga, anak, cucu, dan kerabat, dengan ruang yang terbatas.
“Sejak rumah kami rusak akibat banjir, kami belum bisa kembali. Beras masih ada, tapi lauk seperti ikan dan sayur sering tidak tersedia. Untuk berbuka, kadang kami hanya minum sirup,” tuturnya lirih.
Ia juga mengkhawatirkan kondisi kesehatan anaknya yang kerap demam selama tinggal di tenda. Suhu panas di siang hari dan sirkulasi udara yang minim membuat anak-anak sulit beristirahat dengan nyaman.
Keluhan serupa disampaikan Maulina. Bersama tujuh anggota keluarganya, ia masih berteduh di tenda darurat dengan keterbatasan kebutuhan dasar.
“Kami hanya ingin tempat yang lebih layak untuk anak-anak,” katanya singkat.
Keterlambatan pembangunan huntara turut dibenarkan Keuchik Gampong Pante Labu, Muchlis. Ia menyebut hingga kini belum ada satu pun unit yang dapat ditempati warga.
“Belum satu pun huntara yang bisa dihuni. Warga berharap memasuki bulan puasa sudah bisa tinggal di tempat yang lebih layak, tapi sampai sekarang belum terealisasi,” ujarnya.
Warga kini menaruh harapan kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur agar segera mempercepat penyelesaian pembangunan hunian sementara. Bagi mereka, hunian itu bukan sekadar bangunan, melainkan awal untuk memulihkan kehidupan pascabanjir.
Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pemerintah daerah terkait progres pembangunan maupun target waktu penyelesaian 204 unit hunian sementara tersebut.
Abuyan
Editor : Taufik S
