Kotawaringin Timur, mitratnipolri.co.id
Kepala Staf Korem (Kasrem) 102/Panju Panjung Kolonel Inf Victor Andyka Tjokro, S.I.P., mendampingi Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni, Ph.D., meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Sabtu (17/10/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk memantau perkembangan penanganan karhutla sekaligus memastikan langkah-langkah pengendalian kebakaran berjalan secara optimal.
Rombongan Menteri Kehutanan tiba di Jalan Lingkar Utara Km 3, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan disambut oleh Bupati Kotawaringin Timur, Dandim 1015/Sampit, Kapolres Kotawaringin Timur, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur, serta sejumlah pejabat pemerintah daerah setempat.

Dalam keterangannya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan memerlukan perhatian serius. Tantangan penanganan karhutla dinilai masih besar, terutama karena wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan masih menghadapi keterbatasan curah hujan alami hingga November.
Menurutnya, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan alami di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan baru terjadi pada pertengahan November. Bahkan, beberapa wilayah, termasuk kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, diperkirakan baru mengalami hujan alami pada akhir November.
Menteri Kehutanan menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya hadir dan mengerahkan berbagai sumber daya untuk memastikan kebakaran dapat dipadamkan serta dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan, khususnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Berbagai langkah penanganan dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC), penerapan teknologi dry ice untuk membantu mengurangi konsentrasi asap dan meningkatkan kualitas udara, serta operasi water bombing menggunakan helikopter untuk memadamkan titik-titik kebakaran dari udara.
Ia menjelaskan bahwa hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir merupakan salah satu hasil pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Sementara itu, teknologi dry ice telah diterapkan di Sumatera Selatan. Berdasarkan data yang disampaikan, penerapan teknologi tersebut menunjukkan peningkatan jarak pandang dari 300 meter menjadi 2.800 meter serta penurunan angka parameter kualitas udara dari 660 menjadi 200. Parameter dan satuan pengukuran tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut untuk memastikan ketepatan penyajiannya.
Untuk memperkuat upaya pemadaman dari udara di Kalimantan Tengah, pemerintah juga mendatangkan tambahan satu unit helikopter Mi-17 milik TNI Angkatan Darat melalui Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) ke Bandara Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan. Selain itu, satu unit helikopter milik perusahaan swasta telah dikoordinasikan untuk membantu operasi water bombing, khususnya di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Di bidang penegakan hukum, Menteri Kehutanan menegaskan bahwa pemerintah bersama aparat penegak hukum terus mengambil tindakan terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan. Ia menyebutkan bahwa kepolisian telah menetapkan sejumlah tersangka terkait kasus karhutla. Selain itu, sebanyak 26 perusahaan telah dikenai tindakan administratif berupa pencabutan atau pembekuan izin, sementara proses pemeriksaan terhadap sejumlah perusahaan lainnya masih berlangsung, termasuk perusahaan yang beroperasi di Kalimantan Tengah.
Menteri Kehutanan menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilaksanakan secara adil dan tanpa pandang bulu, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pada kesempatan yang sama, Kasrem 102/Pjg Kolonel Inf Victor Andyka Tjokro menyampaikan bahwa Korem 102/Pjg terus mendukung upaya penanggulangan karhutla melalui berbagai langkah konkret, antara lain pembuatan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air dalam proses pemadaman, peningkatan kesiapsiagaan personel, pemantauan wilayah rawan kebakaran, pelaksanaan patroli rutin, serta penguatan koordinasi dengan instansi terkait.
“Pencegahan harus menjadi perhatian bersama. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api, sehingga dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas,” ungkap Kolonel Inf Victor Andyka Tjokro.
Melalui kunjungan kerja tersebut, diharapkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur terkait semakin kuat dalam mendukung penanganan karhutla. Upaya terpadu ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pemadaman, mengurangi dampak kebakaran terhadap kesehatan masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem hutan di Kalimantan Tengah.
Jurnalis:Husin Kaperwil Kalteng/Dery Humas
Red/Anto Prayoga
