22 Hari Pascabanjir, Anak-Anak Aceh Masih Bergulat dengan Lapar, Dingin, dan Trauma

Berita185 Dilihat

Lhokseumawe, mitratnipolri.co.id

Dua puluh dua hari telah berlalu sejak banjir besar melanda Aceh. Air memang telah surut, namun duka dan luka yang ditinggalkan masih membekas dalam kehidupan masyarakat, terutama di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara. Hingga kini, ribuan warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti alat ibadah, sandang, pangan, papan, dan layanan kesehatan.

Pakaian yang melekat di tubuh para korban, terutama anak-anak, mulai lusuh dan koyak. Banyak dari mereka terpaksa bertahan dengan pakaian seadanya di tengah cuaca yang tidak menentu. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan makanan bergizi.

“Anak-anak seharusnya mendapatkan makanan sesuai kebutuhan tumbuh kembang mereka. Namun di lapangan, kami melihat mereka makan apa pun yang tersedia, padahal asupan gizi mereka sangat terbatas,” ujar Abu Yan salah seorang Kordinator relawan kemanusiaan dari Seusama di lokasi pengungsian, Selasa (18/12/25).

Kondisi susu dan makanan tambahan anak yang semakin sulit didapat membuat keprihatinan semakin mendalam. Tangis anak-anak di tenda-tenda pengungsian seakan menjadi pertanyaan yang tak terucap: apakah mereka lapar, kedinginan, atau merindukan kehidupan normal yang pernah mereka rasakan.

Menurut tokoh masyarakat Aceh Utara, dampak banjir kali ini tidak hanya merusak fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang berat.

“Rumah mereka hancur, tempat bermain hilang, dan rasa aman anak-anak runtuh. Ini bukan sekadar bencana alam, tapi juga bencana kemanusiaan yang harus kita tangani bersama,” katanya.

Rumah-rumah warga yang dulunya nyaman kini berubah menjadi tenda darurat. Halaman bermain yang dahulu hijau kini tertutup lumpur tebal dan licin saat hujan. Kondisi ini membatasi ruang bermain anak-anak sekaligus menambah risiko kesehatan dan keselamatan.

Seorang relawan kesehatan yang terlibat dalam pelayanan pascabanjir menyebutkan bahwa keluhan infeksi kulit, diare, dan gangguan pernapasan mulai meningkat, terutama pada anak-anak dan lansia.
“Kami khawatir jika kebutuhan dasar dan gizi tidak segera terpenuhi, dampaknya akan lebih serius dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Para relawan dan tokoh masyarakat berharap bantuan kemanusiaan tidak berhenti pada fase tanggap darurat semata, tetapi berlanjut hingga pemulihan. Uluran tangan yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan sangat dibutuhkan agar masyarakat Aceh, khususnya di Lhokseumawe dan Aceh Utara, dapat bangkit dan menata kembali kehidupan mereka.

Irianto Mancari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *