Dua Bulan Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Masih Bergulat dengan Lumpur dan Minim Bantuan

Info Publik52 Dilihat

Aceh Tamiang, mitratnipolri.co.id

Lebih dari dua bulan setelah banjir besar melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025, proses pemulihan di sejumlah desa terdampak masih berjalan lambat.

Hingga Minggu (1/2/2026), warga di Desa Kota Lintang, Kecamatan Kuala Simpang, serta Desa Landuh, Kecamatan Rantau, masih menghadapi rumah yang belum layak huni, lumpur tebal yang mengeras, dan bantuan yang dinilai belum mencukupi kebutuhan dasar.

Di Desa Kota Lintang, lumpur sisa banjir dilaporkan masih menumpuk di dalam rumah warga dengan ketebalan mencapai lebih dari satu meter. Akses jalan lingkungan pun tertutup material lumpur yang mengeras, sehingga aktivitas warga menjadi sangat terbatas. Ironisnya, warga mengaku diminta membersihkan rumah secara mandiri tanpa dukungan alat berat, meski kondisi fisik dan ekonomi mereka sangat terbatas.

“Kami disuruh bersihkan sendiri. Lumpur ditumpuk di depan rumah atau pinggir jalan, padahal sudah keras dan tebal. Jalan juga tidak bisa dilewati,” ungkap salah seorang warga.Kondisi ini diperparah dengan hilangnya mata pencaharian warga akibat banjir. Saat kejadian, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar enam meter dan menghanyutkan tempat usaha serta peralatan kerja milik warga.

Keluhan serupa disampaikan Fatimah, warga Dusun Cendrawasih, Desa Landuh, Kecamatan Rantau. Ia mengatakan keterbatasan ekonomi membuat warga kesulitan membersihkan lumpur maupun memperbaiki rumah.

“Kami diminta membersihkan rumah sendiri, sementara untuk mendapatkan uang sangat sulit karena tempat usaha sudah hanyut dibawa banjir,” ujarnya.
Armia, warga desa yang sama, menyebut kondisi pascabanjir hingga kini belum banyak berubah. Sementara itu, Koko, warga Dusun Merak, Desa Landuh, mengaku selama lebih dari dua bulan pascabanjir hanya menerima bantuan beras dalam jumlah terbatas.

“Kami berharap rumah kami bisa segera diperbaiki di lokasi semula dan dana korban banjir dapat segera disalurkan. Banyak warga masih trauma,” katanya.

Warga lainnya, Hendri dan Abdul Muis, secara tegas menyatakan tidak membutuhkan hunian sementara (huntara) yang dibangun di lokasi lain.
“Kami tidak membutuhkan huntara. Yang kami butuhkan adalah perbaikan rumah di tempat kami tinggal,” ujar mereka.

Harapan serupa disampaikan Yunita, warga Dusun Garuda, Desa Landuh. Ia meminta pemerintah segera membersihkan lumpur di jalan depan rumah serta menyediakan tim pembersihan rumah agar warga dapat kembali menempati tempat tinggalnya. Nurbaini, warga Dusun Rajawali, mengungkapkan lumpur di dalam rumahnya telah mengeras dengan ketebalan lebih dari satu meter dan belum tersentuh penanganan.
Sejumlah warga juga menyebutkan bahwa bantuan yang mereka terima sejauh ini lebih banyak berasal dari relawan. Sementara bantuan pemerintah umumnya hanya berupa beras dan mi instan dengan jumlah terbatas.
Lambatnya pemulihan pascabanjir ini turut menjadi perhatian Tim Aliansi Pers Rehabilitasi dan Rekonstruksi Banjir Aceh yang melakukan pemantauan dan investigasi lapangan di sejumlah desa terdampak. Dari hasil peninjauan sementara, tim mencatat masih banyak rumah warga tertimbun lumpur tebal, akses jalan lingkungan belum berfungsi, serta minimnya dukungan alat berat untuk pembersihan material banjir.
Tim menilai proses rehabilitasi dan rekonstruksi belum berjalan optimal dan membutuhkan percepatan, khususnya pada pembersihan permukiman, pemulihan infrastruktur dasar, serta pemenuhan kebutuhan air bersih dan pangan warga terdampak.
Dikonfirmasi terpisah, Datok Desa Kota Lintang, Muhammad Fadil, S.Pd, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan banyak warga belum mampu membersihkan rumah secara mandiri akibat tebalnya lumpur yang sudah mengeras.

“Kami juga mengalami kesulitan membersihkan jalan lingkungan yang memang harus dilakukan oleh alat berat,” ujar Fadil.
Menurutnya, kebutuhan mendesak saat ini adalah ketersediaan ekskavator kecil dan mobil dump truck untuk mengangkut lumpur, serta pembangunan sumur bor guna memenuhi kebutuhan air bersih warga.

“Jika jalan lingkungan dapat dibersihkan, warga yang rumahnya tidak rusak parah bisa kembali menempati rumahnya dan mulai beraktivitas, sehingga pemulihan ekonomi bisa berjalan bertahap,” katanya.

Fadil juga berharap adanya tambahan bantuan bahan pangan, terutama menjelang bulan Ramadan, mengingat persediaan kebutuhan pokok warga semakin menipis.

Terkait kondisi tersebut, redaksi telah berupaya mengonfirmasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Namun hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi mengenai progres penanganan, distribusi bantuan, maupun rencana pengerahan alat berat ke wilayah terdampak.

Abuyan

Editor : Taufik S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *