LHOKSEUMAWE, mitratnipolri.co.id
Di tengah luka yang belum sepenuhnya kering akibat banjir hidrometeorologi, sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna berlangsung di Kota Lhokseumawe. Sabtu ( 27/12/2025)
Ketua Seuramoe Syedara Lhokseumawe (Seusama), Zulkifly Ibrahim, SE, Ak, bersama para pengurus dan relawan, bersilaturahmi dengan Wali Kota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar, SH, MH.
Mereka datang jauh dari Jakarta, bukan untuk seremoni, melainkan untuk memastikan satu hal: bahwa kampung halaman tidak pernah sendirian menghadapi bencana.
Pertemuan berlangsung hangat, jauh dari kesan formal. Di balik senyum dan canda ringan, tersimpan kegelisahan yang sama tentang air yang datang berulang, rumah-rumah yang kembali terendam, dan warga yang belum sempat pulih, namun harus bersiap menghadapi ancaman berikutnya.
Zulkifly Ibrahim membuka perbincangan dengan kisah perjalanan Seusama sejak 4 Desember 2025. Sejak hari-hari awal perhatian tertuju ke Aceh dan Sumatera akibat banjir dahsyat, paguyuban perantau asal Lhokseumawe ini memilih pulang—mengulurkan tangan, membawa logistik, dan menyapa warga yang terdampak langsung.
“Kami mungkin tinggal jauh, tapi hati kami tetap di sini. Selama masyarakat masih membutuhkan, Seusama akan terus hadir,” ucap Zulkifly dengan nada penuh empati.
Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan bukan sekadar paket sembako, melainkan bentuk ikatan batin antara perantau dan tanah kelahiran—ikatan yang diuji justru saat musibah datang.
Para pengurus Seusama yang ikut dalam rombongan pun tak hanya menjadi saksi, tetapi juga pendengar langsung cerita warga. Mereka melihat sendiri bagaimana banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur, kelelahan, dan ketidakpastian masa depan.
Dalam suasana penuh keterbukaan itu, perhatian kemudian tertuju pada Waduk Pusong, harapan lama masyarakat sebagai penahan laju air, namun belum mampu bekerja maksimal. Pertanyaan itu muncul bukan sebagai kritik, melainkan sebagai kegelisahan bersama.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Lhokseumawe Dr. Sayuti Abubakar menjelaskan langkah yang tengah disiapkan pemerintah. Penertiban Keramba Jaring Apung (KJA) milik warga akan segera dilakukan, setelah sebelumnya diberikan waktu untuk dibongkar secara mandiri.
“Setelah penertiban, waduk akan dikeruk agar kembali berfungsi normal. Ini bukan sekadar proyek, tapi ikhtiar agar warga tidak terus hidup dalam kecemasan setiap kali hujan turun,” ujar Sayuti.
Bagi Seusama, penjelasan itu menjadi harapan baru—bahwa kepedulian masyarakat dan keseriusan pemerintah dapat berjalan beriringan.
Pertemuan itu pun berakhir tanpa janji berlebihan. Namun ada komitmen yang terasa kuat: bahwa kepedulian tidak berhenti pada satu kunjungan, dan perjuangan melawan banjir adalah kerja bersama.
Di luar ruangan, hujan mungkin masih bisa turun kapan saja. Namun setidaknya, di hari itu, ada keyakinan yang tumbuh bahwa di balik air yang kerap datang membawa duka, masih ada tangan-tangan yang memilih untuk saling menggenggam.
Abu Yan
Editor : Taufik S











