Air yang Kembali Menggugat Aceh

Berita128 Dilihat

Air yang Kembali Menggugat Aceh

Aceh, mitratnipolri.co.id

Malam belum sepenuhnya jatuh ketika kegelisahan kembali menyelimuti Aceh. Rabu malam (24/12/2025), hujan yang tidak terlalu deras justru menghadirkan ketakutan yang lebih besar.

Bukan karena airnya semata, tetapi karena ingatan ingatan tentang banjir besar yang belum lama pergi, tentang tanah, kayu, dan lumpur yang pernah datang tanpa ampun.

Banjir yang membawa tanah dan kayu bukanlah banjir biasa. Ia adalah amarah alam yang menyapu segalanya.

Saat air menggelontor dari hulu, ia merobohkan penahan-penahan alami yang selama puluhan tahun menjaga keseimbangan.

Bukit terkelupas, tanah terbuka, pepohonan tercabut dari akarnya. Yang tersisa hanyalah jalur kosong jalur yang kelak akan menjadi lintasan bebas bagi air berikutnya.

Tanah yang telah gundul kini tak lagi menahan. Ia menyerah. Setiap tetes hujan menjelma ancaman, setiap aliran kecil berpotensi menjadi gelombang.

Alam, yang selama ini setia menjaga manusia, kini membutuhkan waktu panjang untuk menata ulang dirinya yang porak-poranda.

Malam ini, air kembali mengganas. Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, kembali dikepung genangan.

Di Kecamatan Geureudong Sakti, air merayap masuk ke pusat-pusat permukiman. Jalanan berubah menjadi sungai dadakan. Lampu-lampu rumah memantul di permukaan air yang keruh, seolah menandai kecemasan yang tak terucap.

Bagi warga, ketakutan kali ini terasa berbeda. Luka belum kering, trauma belum pulih. Banyak yang memilih berjaga, enggan memejamkan mata.

Sebagian menyiapkan barang berharga di sudut rumah, sebagian lain memandangi langit dengan doa yang berulang-ulang. Mereka tahu, banjir susulan bisa datang kapan saja bahkan tanpa hujan yang deras.

“Yang paling menakutkan bukan airnya,” ujar seorang warga pelan, “tapi ketidakpastian.”

Alam memang tidak pernah lupa jalannya. Sekali ia menemukan lintasan, ia akan kembali melalui jalur yang sama. Tanah gundul akibat banjir sebelumnya kini menjelma seperti jalan tol bagi aliran air cepat, tanpa hambatan, tanpa ampun. Dan manusia, di hilir cerita ini, hanya bisa bersiap dan berharap.

Aceh malam ini kembali diuji. Di antara suara hujan dan gemuruh air, ada pertanyaan besar yang menggantung: kapan alam diberi kesempatan untuk sembuh, dan kapan manusia belajar cukup untuk menjaganya?

Banjir ini mungkin tidak sebesar yang lalu. Namun ketakutan yang ditinggalkannya terasa sama. Bahkan lebih dalam.

Abuyan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *