Merawat Ciremai dari Akar Rumput: Konsistensi Paguyuban Silihwangi Majakuning dan KTH Menguatkan Ketahanan Ekologis Taman Nasional Gunung Ciremai

Berita24 Dilihat

Majalengka, mitratnipolri.co.id

Di tengah dinamika pengelolaan kawasan konservasi, gerakan berbasis masyarakat kembali menunjukkan perannya. Paguyuban Silihwangi Majakuning bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) mengambil posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) melalui pendekatan kolaboratif dan kerja lapangan berkelanjutan.

 

Kawasan Gunung Ciremai yang memiliki fungsi hidrologis dan ekologis vital bagi wilayah Jawa Barat memerlukan pengawasan serta rehabilitasi yang konsisten. Menyadari hal tersebut, paguyuban dan KTH membangun pola kerja terpadu lintas wilayah, melibatkan KTH Wilayah 1 Kabupaten Kuningan dan Wilayah 2 Kabupaten Majalengka dalam satu garis komitmen yang sama.

Rehabilitasi Terencana dan Berkelanjutan

 

Upaya konkret yang telah direalisasikan berupa penanaman kurang lebih 100.000 bibit pohon di area konservasi TNGC. Kegiatan ini dijalankan secara bertahap dengan melibatkan unsur Muspika, pelajar, serta komunitas pecinta alam sebagai bagian dari penguatan partisipasi publik.

 

Yang membedakan, gerakan ini tidak berhenti pada seremoni tanam. Perawatan intensif, monitoring pertumbuhan, serta penyulaman bibit yang tidak berkembang menjadi bagian dari sistem kerja yang diterapkan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa rehabilitasi hutan membutuhkan konsistensi jangka panjang, bukan sekadar aktivitas simbolik.

 

“Kalau bukan kita yang peduli dan menjaga TNGC, lalu siapa lagi? Tidak semua orang bersedia turun langsung ke lapangan. Ada yang peduli, tetapi hanya sebatas kata-kata tanpa aksi nyata. Kami memilih bergerak dan membuktikan kepedulian itu dengan tindakan,” tegas Ketua Paguyuban, Nandar, Rabu (18/02/2026).

 

Pernyataan itu menjadi refleksi bahwa keberlanjutan lingkungan harus ditopang oleh kerja nyata yang terukur dan berkesinambungan.

 

Pengawasan Partisipatif dan Edukasi Lingkungan

 

Selain rehabilitasi lahan, penguatan pengawasan kawasan menjadi agenda penting. Paguyuban bersama KTH aktif melakukan pemantauan guna meminimalisasi potensi pembalakan liar, kebakaran hutan, serta aktivitas yang mengancam kelestarian satwa dan vegetasi endemik.

 

Upaya tersebut berjalan beriringan dengan edukasi kepada masyarakat sekitar kawasan. Kesadaran bahwa hutan berperan sebagai penyedia cadangan air, pengendali iklim mikro, serta pelindung dari risiko bencana ekologis terus ditanamkan melalui pendekatan persuasif dan dialogis.

 

Nano, salah seorang warga yang kerap menyaksikan aktivitas di lapangan, memberikan pandangannya. “Saya melihat sendiri bagaimana mereka rutin turun ke lapangan untuk menanam, merawat, dan menjaga hutan. Itu bukan pekerjaan mudah, tetapi mereka melakukannya dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

 

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam menjaga kawasan. “Menjaga Gunung Ciremai harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan,” tambahnya.

 

Menguatkan Ketahanan Ekologis Daerah

 

Secara ekologis, keberadaan Gunung Ciremai menjadi penyangga utama sistem lingkungan di wilayah sekitarnya. Stabilitas sumber air, kualitas udara, serta keseimbangan ekosistem sangat dipengaruhi oleh kondisi hutannya.

 

Melalui model kolaborasi berbasis komunitas yang terus diperkuat, Paguyuban Silihwangi Majakuning dan KTH menunjukkan bahwa gerakan masyarakat dapat menjadi bagian integral dari strategi pelestarian kawasan konservasi.

 

Ke depan, keterlibatan multipihak diharapkan semakin solid sehingga pengelolaan TNGC tidak hanya bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga diperkuat oleh kesadaran kolektif masyarakat sebagai penjaga alam di garis terdepan.

Red/Anto Prayoga 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *