Inilah Alasan Kenapa di Raport Tidak Ada Peringkat Atau Ranking Pada Kurikulum Merdeka

Berita1088 Dilihat

mitratnipolri.co.id | Penghapusan peringkat (ranking) pada Kurikulum Merdeka bukan tanpa alasan. Ada beberapa pertimbangan penting yang menjadi dasar kebijakan ini. Secara sederhana, ranking dihapus karena tidak lagi dianggap sebagai indikator utama keberhasilan belajar.

Berikut alasan lengkapnya:

1. Fokus Pada Kompetensi, Bukan Kompetisi

Kurikulum Merdeka menekankan kompetensi dan kemajuan belajar tiap individu, bukan perbandingan antar siswa.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan dan gaya belajar yang berbeda. Ranking sering membuat hasil belajar terlihat seperti “perlombaan”, bukan proses.

2. Mengurangi Tekanan dan Kecemasan Berlebih

Ranking terbukti di banyak penelitian dapat menimbulkan:

Stres akademik,

Kecemasan berlebihan,

Rasa takut gagal,

bahkan burnout sejak usia sekolah.

Kurikulum Merdeka ingin menciptakan suasana belajar yang lebih aman dan nyaman.

3. Mencegah Labeling dan Diskriminasi

Setiap kali ranking diumumkan, sering muncul:

siswa tertentu merasa rendah diri,

siswa yang “top” merasa lebih unggul,

guru/ortu kadang memperlakukan siswa berdasarkan nomor ranking.

Ini menciptakan lingkungan tak sehat dan bisa merusak kepercayaan diri anak.

4. Penilaian Saat Ini Lebih Holistik

Kurikulum Merdeka menggunakan:

Asesmen formatif,

Projek Profil Pancasila,

Penilaian kompetensi esensial,

Portofolio.

Penilaian ini memberi gambaran lebih lengkap tentang perkembangan siswa daripada sekadar angka atau posisi ranking.

5. Mendorong Kolaborasi, Bukan Persaingan

Kurikulum Merdeka ingin menumbuhkan semangat:

kerja sama,

komunikasi,

saling dukung,

saling bantu dalam belajar.

Ranking justru membuat lingkungan belajar menjadi kompetitif secara tidak sehat.

6. Fokus pada Perbaikan Diri (Growth Mindset)

Alih-alih membandingkan dengan teman, siswa diajak membandingkan:

kemajuan dirinya hari ini dengan dirinya sebelumnya.

Ini lebih sesuai dengan pendekatan growth mindset yang ingin dibangun dalam Kurikulum Merdeka.

7. Mengurangi Praktik Tidak Sehat Terkait Prestasi

Ranking kadang memunculkan perilaku seperti:

manipulasi nilai,

mencontek,

kompetisi tidak sehat demi angka.

Tanpa ranking, motivasi bergeser ke arah proses dan hasil belajar yang lebih jujur.

Apa pengganti ranking?

Pada Kurikulum Merdeka, laporan hasil belajar lebih berfokus pada:

Deskripsi capaian kompetensi,

Umpan balik guru,

Portofolio karya,

Progres perkembangan per fase.

Sehingga orang tua mengetahui apa yang anak sudah bisa, apa yang perlu ditingkatkan, dan bagaimana cara mendukungnya.

*/Red/Taufik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *