DARI BOS PU JADI PEMULUNG: KISAH PILU KELUARGA WA MAYANG DI MAJALENGKA, TERJERAT SAKIT DAN KEMISKINAN AKUT.

Info Publik95 Dilihat

Majalengka – Jawa Barat, mitratnipolri.co.id

Hidup memang tak selalu berjalan sesuai rencana. Madsuhi (70-an), yang akrab disapa Wa Mayang, warga Desa Sukaraja Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, kini tengah berjuang keras mempertahankan nyawa dan martabat keluarganya. Dahulu, ia dikenal sebagai “Bos Pungutan” di sektor Pekerjaan Umum (PU) jalan, sebuah profesi yang pernah menjamin ekonomi keluarganya berada dalam kondisi stabil. Namun, takdir berkata lain.

Kini, setelah tiga tahun terakhir dihantui sakit lambung komplikasi yang melumpuhkan fisiknya, Wa Mayang dan istrinya, Yohana, harus rela jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem. Tabungan hasil kerja keras masa lalu telah ludes terkuras untuk biaya pengobatan dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Banting Setir Jadi Pemulung demi Bertahan Hidup

Dengan kondisi suami yang tak lagi mampu bekerja berat, Yohana terpaksa banting setir menjadi pemulung rongsokan. Setiap hari, wanita tangguh ini keliling kampung mencari barang bekas layak jual. Penghasilan yang didapat sangat minim, seringkali hanya cukup untuk membeli beras sekilo atau lauk seadanya.

Kondisi keuangan keluarga ini mencapai titik nadir yang memilukan. Yohana mengakui, ada momen di mana mereka harus rela menahan lapar karena tidak memiliki uang sedikitpun.

“Kami malu jika harus meminta-minta ke tetangga. Rasa gengsi itu masih ada. Akibatnya, kami pernah mengalami masa sulit hingga tiga hari tidak makan nasi sama sekali. Kami hanya bertahan dengan minum air putih dan tidur,” ujar Yohana dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca saat ditemui awak media, beberapa waktu lalu.

Kisah Wa Mayang dan Yohana menjadi potret nyata betapa rapuhnya stabilitas ekonomi ketika dihantam penyakit kronis tanpa jaminan kesehatan yang memadai. Dari seorang yang pernah dianggap “kuat” secara finansial, kini mereka justru menjadi kelompok paling rentan yang membutuhkan uluran tangan.

Harapan Uluran Tangan Pemerintah dan Dermawan

Saat ini, keluarga Wa Mayang sangat membutuhkan bantuan mendesak, terutama untuk:
1. Biaya Pengobatan: Untuk menangani sakit lambung komplikasi Wa Mayang agar kondisinya membaik dan bisa kembali produktif.
2. Kebutuhan Pokok: Sembako harian untuk mencegah kelaparan kembali terjadi.

Keluarga ini berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Desa Sukaraja Wetan, Camat Jatiwangi, Dinas Sosial Kabupaten Majalengka, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), maupun para dermawan yang memiliki hati mulia untuk meringankan beban mereka.

Hak Jawab Pihak Terkait

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi atau tindak lanjut konkret dari pihak Pemerintah Desa Sukaraja Wetan, Kecamatan Jatiwangi, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Majalengka terkait kondisi kritis keluarga Wa Mayang.

Sebagai media yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, awak media yang tergabung dalam organisasi PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi pihak terkait atau kuasa hukumnya sesuai dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami mengundang pihak berwenang untuk memberikan klarifikasi atau langkah bantuan yang telah/akan dilakukan.

Penutup

Kisah Wa Mayang mengingatkan kita semua bahwa kemiskinan bisa menimpa siapa saja, kapan saja. Kepedulian sosial bukan sekadar kata-kata, tetapi aksi nyata. Mari kita bantu saudara kita yang sedang terjatuh, agar mereka bisa bangkit kembali dengan dignitas yang utuh.

Bagi pihak yang ingin memberikan bantuan, dapat menghubungi langsung keluarga atau melalui kontak redaksi untuk verifikasi lebih lanjut.

Penulis:
Wa’Leo

Editor:
Herman B

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *