Dandim 1015/Sampit Hadiri Rapat Evaluasi Penanggulangan Karhutla dan Kekeringan di Kotim Akhir Oktober 2026

Institusi TNI28 Dilihat

Kotawaringin Timur, mitratnipolri.co.id

 

Komandan Kodim (Dandim) 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan, S.I.P., menghadiri Rapat Evaluasi Penanggulangan Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta Kekeringan di Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur pada akhir Oktober 2026, Kamis (29/10/2026).

 

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur, Jalan Jenderal Sudirman Km 6,7, Sampit. Rapat dihadiri oleh Bupati Kotawaringin Timur H. Halikinnor, S.H., M.M.; Wakil Bupati Irawati, S.Pd., M.A.P.; Sekretaris Daerah Diana Setiawan, S.E., M.A.P.; serta sejumlah pejabat dari unsur TNI, Polri, kejaksaan, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya.

 

Turut hadir perwakilan Danrem 102/Pjg, yakni Pasiops Korem 102/Pjg; perwakilan Kapolres Kotim, yakni Kabag Ops Polres Kotim; perwakilan Kajari Kotim, yakni Kasiintel Kejari Kotim; Wadanyonif TP 923/Mty; Wadanyon B Pelopor Satbrimob Polda Kalteng; perwakilan Dirpolairud Polda Kalteng, yakni perwira Ditpolairud Polda Kalteng; Kalaksa BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur beserta jajaran; para asisten Sekretariat Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur beserta para kepala bagian; kepala organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Kotawaringin Timur; kepala instansi vertikal di Kabupaten Kotawaringin Timur; Danpos TNI AL Sampit; Danpos TNI AU Sampit; Kepala PDAM Tirta Mentaya; serta para camat se-Kabupaten Kotawaringin Timur.

 

Rapat evaluasi tersebut membahas perkembangan penanganan Karhutla dan kekeringan, kondisi cuaca terkini, serta langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

 

Dalam paparannya, Bupati Kotawaringin Timur menyampaikan bahwa wilayah Kotim telah diguyur hujan. Berdasarkan penjelasan Kepala BMKG Kabupaten Kotawaringin Timur, hujan tersebut merupakan hujan alami yang juga didukung oleh pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

 

Meski demikian, sejumlah titik panas (hotspot) masih terdeteksi di berbagai wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur. Selain itu, fenomena El Niño yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027 menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai bersama.

 

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah lanjutan berupa pemadaman dan pembasahan di titik-titik panas serta lokasi kebakaran, pelaksanaan patroli darat secara rutin, dan upaya antisipasi melalui sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat. Masyarakat juga diimbau untuk tidak membakar lahan maupun sampah guna mencegah terjadinya kebakaran.

 

Sementara itu, berdasarkan paparan BMKG, kondisi El Niño masih tergolong kuat dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Fenomena tersebut, bersama dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), berpotensi memengaruhi pola curah hujan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur. Meski demikian, potensi pertumbuhan awan hujan diperkirakan cukup tinggi hingga 5 November 2026, dengan curah hujan pada November diprediksi berkisar antara 100–300 milimeter.

 

Dalam paparannya, Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan, S.I.P., menegaskan bahwa upaya penanggulangan Karhutla harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Hal ini karena potensi kebakaran masih perlu diwaspadai, baik pada permukaan tanah maupun pada lapisan tanah yang lebih dalam, sebagaimana dijelaskan oleh Kepala BMKG Kabupaten Kotawaringin Timur.

 

Dandim juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca masih berlangsung melalui koordinasi antara TNI Angkatan Udara dan BMKG, dengan dukungan pesawat yang digunakan dalam operasi tersebut. Selain itu, perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara perlu terus dipantau sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.

 

Ia menekankan bahwa satuan tugas darat harus tetap melaksanakan pemantauan dan patroli Karhutla, disertai upaya pemadaman serta pembasahan di titik-titik panas dan lokasi kebakaran, meskipun belum terdapat laporan kejadian baru. Area lahan yang masih mengeluarkan asap juga harus terus dilakukan pembasahan guna mencegah munculnya kembali titik api.

 

Selain penanganan Karhutla, rapat tersebut turut membahas dampak kekeringan terhadap ketersediaan air bersih. Pihak PDAM Sampit menyampaikan bahwa air Sungai Mentaya masih memiliki tingkat salinitas yang tinggi sehingga terasa payau. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pasokan air bersih sementara masih mendapat dukungan dari PDAM Kotabesi.

 

Melalui rapat evaluasi ini, diharapkan koordinasi dan sinergi seluruh unsur terkait semakin kuat dalam mengantisipasi potensi Karhutla dan kekeringan. Dengan demikian, keselamatan masyarakat dapat terus terjaga dan dampak bencana di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dapat diminimalkan.

 

Jurnalis : Husin Kaperwil Kalteng/Derry Humas

Red/Anto Prayoga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *