Bandung – Jawa Barat, mitratnipolri.co.id
Penulis, Robby Maulana Zulkarnaen
Dulu, ada satu kata yang cukup membuat orang berhenti melangkah: pamali. Ia tidak disertai ancaman hukum, tidak pula ditulis dalam peraturan resmi tetapi ditaati karena hidup dalam kesadaran bersama.
Pamali bukan sekadar larangan, melainkan penanda batas antara pantas dan serampangan, antara bijak dan merusak. Ketika batas itu diabaikan, kehidupan selalu menemukan caranya sendiri untuk mengingatkan.
Dalam kearifan local Sunda, pamali berfungsi sebagai sistem nilai dan etika yang diwariskan secara lisan.
Ia mengatur relasi manusia dengan alam, dengan sesama dan dirinya sendiri. Kalimat sederhana seperti pamali ulah miceun runtah dimana waé bisi ditoél jurig jarian bukan hanya soal kebersihan, tetapi pengakuan bahwa ruang hidup adalah milik bersama.
Sampah yang dibuang sembarangan adalah tanda runtuhnya adab, bukan sekadar pelanggaran teknis.
Begitu pula larangan pamali ulah nuar tangkal saga wayah bisi cilaka. Bahasa yang digunakan memang simbolik, bahkan mistis namun substansinya sangat rasional.
Pohon bukan sekadar kayu yang bisa ditebang sesuka hati, ia penyangga keseimbangan. Ketika larangan itu diabaikan, alam tidak perlu marah, ia cukup bereaksi. Longsor, banjir dan kekeringan hadir sebagai akibat bukan kebetulan.
Pamali sejatinya adalah peringatan dini yang dibungkus dalam bahasa budaya agar mudah dipahami dan ditaati.
Struktur pamali selalu menyertakan konsekuensi. Melanggarnya diyakini membawa celaka atau kesialan. Namun hari ini, konsekuensi itu tidak lagi sebatas kepercayaan.
Sampah yang menutup saluran air berujung banjir. Hutan yang digunduli berubah menjadi bencana. Alam seolah berbicara dengan nada yang semakin keras karena peringatan halus tak lagi didengar.
Ironisnya, semakin maju manusia, pamali justru semakin ditertawakan. Ia dianggap mitos, tidak rasional dan tidak relevan. Kita merasa cukup dengan teknologi dan data, seakan alam sepenuhnya bisa dikendalikan.
Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, ketika pamali ditinggalkan, kerusakan menjadi lebih masif dan berulang. Bencana bukan datang tiba-tiba tapi akumulasi dari batas yang terus dilanggar.
Kemerosotan ini tidak hanya tampak pada relasi manusia dengan alam, tetapi juga pada adab sosial. Lisan menjadi kasar, empati menipis dan rasa malu perlahan menghilang. Pamali yang dulu menjaga sikap dan perilaku tergeser oleh kebebasan tanpa arah. Padahal, pamali mengajarkan satu hal mendasar bahwa tidak semua yang bisa dilakukan patut dilakukan.
Pamali adalah pendidikan karakter paling awal yang bekerja dari kesadaran, bukan paksaan.
Nilai ini sejatinya sejalan dengan pesan Al-Qur’an. Allah mengingatkan, “Wa lā tufsidu fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā” janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya (QS. Al-A‘raf: 56).
Ini adalah pamali dalam bahasa wahyu, larangan ilahiah yang menuntut tanggung jawab moral. Bahkan ditegaskan pula, “Zhaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās” telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41).
Kerusakan bukan takdir semata, melainkan buah dari pilihan manusia sendiri.
Pamali dan Al-Qur’an bertemu pada satu titik, yaitu menjaga keseimbangan. Bedanya, pamali berbicara melalui bahasa budaya, sementara wahyu berbicara melalui kalam Ilahi. Namun keduanya sepakat bahwa kehidupan membutuhkan adab dan adab membutuhkan batas. Ketika batas itu dihapus, peringatan akan datang, entah dalam bentuk bencana alam, krisis moral atau kegelisahan kolektif yang sulit dijelaskan.
Mungkin persoalan kita hari ini bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kehilangan kebijaksanaan.
Kita tahu banyak tetapi lupa menghormati. Kita mampu membangun tinggi tetapi lupa merawat dasar. Di sinilah pamali perlu dibaca ulang bukan sebagai mitos yang menakut-nakuti melainkan sebagai kearifan lokal yang mengajarkan tanggung jawab.
Ketika pamali ditinggalkan, alam memang mengingatkan dengan cara yang keras. Namun peringatan itu sejatinya masih memberi ruang untuk sadar dan kembali.
Sebab pamali, pada akhirnya bukan tentang takut celaka melainkan tentang belajar hormat kepada alam, kepada sesama dan kepada kehidupan yang dipercayakan kepada manusia.
Jurnalis : Herman Budiantoro

