Dari Logistik hingga Sumur Bor, SEUSAMA Teguhkan Peran Relawan Pasca Banjir.
Aceh Utara, mitratnipolri.co.id
Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan dapur-dapur warga yang masih sunyi tanpa api, harapan itu datang dari jauh dari perantauan. Bukan dalam bentuk janji, melainkan kerja nyata yang menembus jarak dan waktu.
Ketua Umum SEUSAMA (Seuramoe Syedara Lhokseumawe), Zulkifly Ibrahim, SE, Ak, bersilaturahmi dengan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE, MM, yang akrab disapa AyahWa. Minggu (28/12/25)
Pertemuan yang berlangsung hangat itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan pertemuan nurani tentang bagaimana rakyat bertahan setelah banjir hidrometeorologi merenggut ketenangan hidup mereka.
Silaturahmi ini difasilitasi oleh Abu Yan Irianto Mancari, sosok yang selama hari-hari genting berdiri di garis depan sebagai Koordinator Lapangan penyaluran bantuan SEUSAMA. Didampingi Kadis Kominfo Aceh Utara Halidi, S.Sos, MM, pertemuan tersebut menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan fakta lapangan apa adanya tanpa polesan.
Dalam pemaparannya, Abu Yan mengungkapkan bahwa sejak 4 hingga 18 Desember 2025, SEUSAMA telah menyisir 19 gampong di Kabupaten Aceh Utara, membawa bantuan logistik ke wilayah-wilayah yang sempat terisolasi. Sebanyak 11 ton beras, ditambah kebutuhan pokok lainnya, disalurkan dengan nilai pembelanjaan mencapai Rp262 juta, disalurkan dalam 2 tahap.
“Ini bukan bantuan lembaga besar. Ini gotong royong warga Aceh dan donasi warga lainya se-Jabodetabek yang menyisihkan rezekinya untuk kampung halaman,” tutur Abu Yan lirih namun tegas, mewakili Mayor Czi Rusli yang berhalangan hadir.
Ayah Wa menyimak dengan wajah serius. Baginya, data bukan sekadar angka di baliknya ada perut yang lapar, ibu-ibu yang bingung, dan anak-anak yang bertanya kapan rumah kembali normal.
Dalam sambutannya, Ayah Wa menyampaikan terima kasih yang tulus kepada SEUSAMA dan masyarakat Aceh serta donatur dari warga lainya se-Jabodetabek.
“Kami merasakan betul kehadiran saudara-saudara kami dari perantauan. Di saat masyarakat kami diuji, kalian datang dengan empati dan kerja keras,” ujar Ayah Wa.
Namun, suara paling jujur justru muncul saat pembahasan menyentuh dapur warga. Ayah Wa mengungkapkan bahwa kebutuhan mendesak masyarakat saat ini bukan hanya sembako, tetapi alat masak—terutama kompor gas. Banyak rumah selamat dari banjir, tetapi tak mampu menyalakan api untuk memasak.
Ketika tim SEUSAMA mempertanyakan ketersediaan gas
“Bagaimana jika kompornya ada, tapi gasnya sulit didapat?”—Ayah Wa menjawab lugas, tanpa ragu.
“Kita adakan dulu kompornya. Untuk gas, nanti kami surati Pertamina. Negara tidak boleh absen.”
Pungkasnya.
Di akhir pertemuan, Zulkifly Ibrahim kembali menegaskan bahwa kerja kemanusiaan SEUSAMA tidak berhenti di meja silaturahmi.
Pada hari yang sama, relawan SEUSAMA turun langsung menyalurkan bantuan sandang dan pangan, pakaian anak-anak, perempuan, laki-laki, serta kebutuhan dapur ke 3 Gampong.
Gampong Riseh Baroh, Riseh Teungoh, dan Riseh Tunong di Kecamatan Sawang.
Tak hanya itu, SEUSAMA juga tengah mengerjakan sumur bor di kawasan Jambo Aye sebuah ikhtiar kecil untuk menjawab kebutuhan air bersih pasca banjir.
“Ini uji coba. Jika manfaatnya dirasakan warga, kami siap menambah,” ujar Zulkifly.
“Relawan kami juga siap. Tenaga, waktu, bahkan tenaga kasar sekalipun kami ada,” pungkasnya.
Silaturahmi itu pun diakhiri dengan foto bersama. Sebuah gambar sederhana, namun menyimpan pesan kuat: di tengah bencana, kemanusiaan tidak mengenal jarak. Dari perantauan, empati pulang ke Aceh Utara membawa harapan, satu dapur, satu sumur, dan satu gampong demi gampong.
Abu Yan
Editor : Taufik S







