MAPALAYA Universitas Jayabaya : Banjir Rob Terus Menghantui Pesisir Utara Jakarta, Negara Lalai Lindungi Warganya

Berita118 Dilihat

Jakarta, mitratnipolri.co.id :

Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Jayabaya (Mapalaya Univ. Jayabaya) menilai banjir rob kembali merendam kawasan pesisir utara Jakarta. Selasa, 23 Desember 2025.

Tepatnya di Pluit, Muara Angke, Sunda Kelapa, Jalan RE Martadinata, hingga Marunda kembali tergenang air laut sampai  masuk ke pemukiman warga.

Peristiwa ini terjadi saat pasang laut tinggi bertepatan dengan fase bulan purnama dan perigee (supermoon), namun dampaknya meluas akibat lemahnya pemerintah dalam pengelolaan lingkungan pesisir Jakarta.

Akibat banjir rob tersebut beberapa kelurahan terdampak, sehingga aktivitas warga lumpuh. Resiko yang dialami yaitu kerusakan rumah, fasilitas umum, hingga kesehatan masyarakat terganggu.

Ketua Umum MAPALAYA Universitas Jayabaya, Muhammad Adriansyah, menilai banjir rob yang terus berulang menunjukkan kegagalan serius pemerintah dalam tata kelola wilayah pesisir.

“Banjir rob ini bukan bencana dadakan. Ini krisis yang dibiarkan, Negara seharusnya hadir melindungi warga pesisir, tapi yang terjadi justru pembiaran terhadap penurunan muka tanah, penyedotan air tanah berlebihan, dan pembangunan yang mengorbankan lingkungan,” tegas Adriansyah.

Menurut Muh. Adriansyah, selama penanganan banjir rob masih dianggap sebagai masalah teknis semata, Jakarta akan terus berada dalam lingkaran krisis tanpa mitigasi dan solusi. Infrastruktur pompa dan tanggul tidak akan efektif jika tidak dibarengi perbaikan tata ruang dan pemulihan ekosistem pesisir.

Ketum Mapalaya Muh. Adriansyah, menyoroti minimnya ruang terbuka hijau di kawasan pesisir Utara Jakarta yang seharusnya berfungsi sebagai area resapan dan penyangga ekologis dan ekosistem.

Alih fungsi lahan yang masif dinilai telah menghilangkan daya tahan alami wilayah pesisir terhadap tekanan air laut.

Selain itu, lemahnya pengawasan terhadap pembangunan di kawasan pesisir turut memperparah kondisi, Bangunan berdiri di wilayah rawan tanpa mempertimbangkan kapasitas lingkungan dan struktur daya tahan tanah, sementara kawasan lindung semakin terdesak.

Sebagai langkah konkret, MAPALAYA Universitas Jayabaya mendorong rehabilitasi dan perluasan ruang terbuka hijau di pesisir utara Jakarta, peningkatan dan modernisasi sistem drainase dan pompa air, serta penegakan aturan yang tegas mengenai tata ruang pesisir.

Upaya ini harus dibarengi dengan pembatasan penyedotan air tanah dan percepatan pemulihan ekosistem, termasuk penanaman mangrove dan penguatan perlindungan pantai.

Ketum MAPALAYA Universitas Jayabaya, juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam upaya mitigasi banjir rob, edukasi lingkungan, pengelolaan sampah yang lebih baik dan partisipasi warga dalam menjaga kawasan pesisir harus menjadi bagian dari kebijakan bukan hanya sekadar slogan.

“Selama banjir rob hanya dianggap kejadian musiman, Jakarta akan terus kalah oleh lautnya sendiri. Kami secara kelembagaan siap terlibat dalam aksi lapangan, advokasi kebijakan, dan edukasi publik.

Akan tetapi tanggung jawab utama tetap ada pada Pemerintah Daerah dan Pusat sebagai pengambil kebijakan. Pemerintah harus segera  mencari solusi dan kami secara kelembagaan siap berkolaborasi” Tutup Adriansyah.

Jurnalis : Irma
Editor : Taufik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *